Difteri Jadi Perhatian Akademisi

By | April 24, 2019

Difteri Jadi Perhatian Akademisi

Difteri Jadi Perhatian Akademisi

Difteri Jadi Perhatian Akademisi

BANDUNG – Provinsi Jawa Barat menduduki provinsi kedua dengan kasus penderita difteri terbanyak di Indonesia, menyusul Jawa Timur di posisi pertama. Upaya pencegahan difteri pun menjadi masalah penting dan menjadi perhatian kalangan akademisi.

Buruknya, penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok usia anak-anak, namun j

uga menyerang usia remaja dan orang tua. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Alex Chairul Fatah, dr., Sp.A(K), rentannya usia dewasa terserang difteri disebabkan meningkatnya jumlah populasi dewasa dengan kekebalan tubuh yang lemah.

“Ini dapat mengancam kehidupan. Apabila tidak diobati dan penderita tidak mempunyai kekebalan, angka kematiannya akan mencapai 50%. Bila diobati akan turun 10%,” ujar Prof. Alex saat menjadi pembicara dalam diskusi “Mengupas Tuntas Waspada Difteri” yang digelar Dewan Profesor Unpad di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jalan Eijkman No. 38, Bandung, Senin (5/2).

Sebelumnya, difteri rentan menular ke anak-anak. Namun, melihat data penderita difteri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, ditemukan penderita berusia 71 tahun. Sementara di Surabaya, saat ditemukan kasus difteri pada usia dewasa, para tenaga medis sempat menduga bahwa penyakit tersebut bukanlah difteri.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia ditemukan adanya kasus difteri. Rata-rata, kasus ini menyerang kelompok usia 4–8 tahun dan kelompok usia 15 tahun ke atas. Prof. Alex menilai, perubahan paradigma masyarakat yang menolak vaksin menjadi penyebab tingginya penyebaran difteri pada orang dewasa.

Beberapa faktor lainnya yaitu perubahan jadwal imunisasi pada kelompok usia tertentu

dan masih buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia.

Rendahnya pola imunisasi ini menjadikan kekebalan imunitas (herd immunity) masyarakat Indonesia rendah. Dalam beberapa lama, berbagai macam penyakit akan dengan mudah menyerang populasi dengan kekebalan yang rendah dan menularkan kembali kepada yang lainnya.

Dalam kasus difteri saja, satu penderita berisiko menularkan difteri kepada 6–7 orang. Jika kekebalan tiap orang rendah, wabah ini berisiko menularkan ke sejumlah orang lainnya. Satu orang akan kebal terhadap difteri jika kekebalan imunitasnya di atas 85%.

Imunisasi ulangan penting dilakukan terutama bagi kelompok usia prasekolah, remaja,

hingga kelompok lanjut usia. Saat ini, pola imunisasi lengkap masih pada kelompok usia 0–1 tahun, 2 tahun, dan usia sekolah.

Pemerintah juga harus merespon cepat terhadap penyebaran wabah difteri. Prof. Kusnadi mengatakan, upaya Outbreaks Response Imun (ORI) seharusnya dilakukan tatkala ditemukan minimal satu penderita difteri. ORI ini merupakan langkah untuk memutus mata rantai penyebaran virus. jo

 

Sumber :

https://pendidikan.id/main/forum/diskusi-pendidikan/mata-pelajaran/10979-anatomi-kulit-dan-gambar-serta-fungsinya