GenRe BKKBN Jabar Sambangi MA Raudlatul Muta’alimin

By | August 8, 2019

GenRe BKKBN Jabar Sambangi MA Raudlatul Muta’alimin

GenRe BKKBN Jabar Sambangi MA Raudlatul Muta'alimin

GenRe BKKBN Jabar Sambangi MA Raudlatul Muta’alimin

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat,

mensosialisasikan program Generesi Berencana (GENRE) di Madrasah Aliyah Raudlatul Muta`alimin, Desa Pangabuan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Minggu (30/9).

Sosialisasi tersebut bertujuan untuk zero toleran terhadap tiga resiko yang dihadapi remaja yaitu seksualitas, HIV/AIDS, dan NAPZA. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Komisi IX DPR RI dengan BKKBNJawa Barat sebagai mitra kerja dengan melakukan sosialisasi program Generesi Berencana (GENRE).

Mitra Kerja BKKBN, Dodo Hambali mengungkapkan prinsip generasi berencana adalah katakan tidak pada seks bebas, pernikahan dini dan narkoba. Saat ini di Indonesia para remaja sedang dalam masa dimana memiliki kemudahan dalam mengakses segala informasi dengan begitu cepat, hal ini merupakan akibat dari terjadinya globalisasi dalam segala sektor.

Karena salah satu karakteristik remaja, lanjut Hambali, masih dinamis dan emosional maka informasi yang seharusnya dimanfaatkan untuk mengembangkan karakter diri bisa disalahgunakan dengan mengakses informasi-informasi negatif yang bisa merusak moral remaja.

“Sehingga Bapak Dede Yusuf sebagai anggota Komisi IX DPR RI melakukan kerjasama dengan BKKBN

untuk menyuarakan program Generasi Berencana (GENRE) di wilayah Kab. Bandung sebagai bentuk kepeduliannya terhadap remaja di Indonesia khususnya di Wilayah Kab. Bandung,” ucapnya.

Senior Duta Genre Kabupaten Bandung, Abah Wawan mengatakan remaja sejatinya adalah harapan semua bangsa di seluruh dunia. Karena, negara yang memiliki remaja tingkat kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional yang kuat akan menjadikan bangsa tersebut kuat pula.

“Perkembangan dunia yang kian tiada batas (less border) saat ini berakibat pula pada perubahan remaja di tanah air Indonesia. Alih-alih membawa perubahan yang positif namun perubahan tersebut dominan mengarah pada perilaku negatif remaja Indonesia,” ungkapnya.

“​Masalah yang timbul terhadap remaja saat ini biasanya berkaitan dengan masalah seksualitas,

HIV/AIDS, dan penyalahgunaan NAPZA,” tambah Wawan.

Karenanya, remaja dalam kondisi ini tentu memerlukan penanganan yang tepat. Karena, sangat penting bagi remaja untuk berkembang dengan baik dan benar dan menanggalkan perilaku yang merusak agar bisa menata masa depan cerah.

“Sehingga prinsip yang harus diberlakukan terhadap remaja adalah zero toleran terhadap tiga resiko yang dihadapi remaja, yaitu seksualitas, HIV/AIDS, dan NAPZA (TRIAD KRR),” terangnya.

Kepala OPD KB Kabupaten Bandung, Yoga menjelaskan program KB adalah program yang mengatur kelahiran penduduk sejak tahun 1970. Apabila sejak saat itu program KB tidak dilaksanakan maka bangsa Indonesia akan memiliki jumlah penduduk yang tinggi.

“Dengan mengkampanyekan katakan tidak pada nikah muda dibawah 21 Tahun (wanita) 25 Tahun (Pria), katakan tidak pada narkoba, dan katakan tidak pada seks pra nikah. Hal tersebut sangat penting demi menjaga bibit remaja Indonesia yang unggul, karena pada saat tahun 2030 terjadi bonus demografi yaitu tersedianya usia produktif lebih banyak ketimbang usia non produktif,” tandasnya.

 

Sumber :

https://solopellico3p.com/penemu-fotografi-dan-kamera/