Kecemerlangan Rasulullah saw dalam Perjanjian Hudaibiyah

By | September 11, 2019

Kecemerlangan Rasulullah saw dalam Perjanjian Hudaibiyah

Rasulullah saw. dan kaum muslimin di Medinah rindu untuk berhaji ke tanah Mekah sekaligus menapaki kampung halaman tercinta yang lama udah mereka tinggalkan. Namun, kaum musyrikin Quraisy tidak serta-merta mengizinkan kaum muslimin untuk masuk ke tanah mereka.

Bagaimanapun itu akan merendahkan harga diri kaum Quraisy yang dianggap udah tunduk kepada kaum muslimin kalau membiarkan mereka masuk ke kota Mekah.

Untuk hindari bentrokan antara ke dua belah pihak-sebenarnya mereka juga udah bosan bersama peperangan yang berlangsung dan juga menelan banyak korban harta dan jiwa-akhirnya disepakati sebuah perjanjian gencatan senjata yang dinamakan Perjanjian Hudaibiyah.

Dalam perjanjian itu ada pasal yang meresahkan kaum muslimin, yaitu barangsiapa berasal dari golongan Quraisy menyeberang kepada Muhammad tanpa seizin walinya, mesti dikembalikan kepada mereka dan barangsiapa berasal dari pengikut Muhammad menyeberang kepada Quraisy, tidak akan dikembalikan.

Kaum muslimin yang tersiksa bersama perjanjian tersebut, antara lain Abu Jandal r.a. dan Abu Bashir r.a. Mereka dan kaum muslimin yang masih berada di Mekah mesti ulang mengalami siksaan berasal dari para masyarakat musyrikin Quraisy yang zalim.

Akan tetapi, di bawah pimpinan Abu Bashir r.a., kaum muslimin Laki-laki yang berjumlah lebih kurang 70 orang melarikan diri ke Lembah Ish karena tidak diperkenankan masuk ke Medinah. Di lembah itulah mereka memboikot jalur dagang masyarakat Quraisy ke Syam agar mengacaukan perekonomian masyarakat Mekah.

Masa gencatan senjata ini juga dimanfaatkan oleh Rasulullah saw. untuk menyebarluaskan Islam ke semua pelosok jazirah Arab bersama mengirim para sobat kepada raja-raja penguasa tanah wilayah tersebut.

Belum ulang kalau ada orang muslim berasal dari Medinah mampir ke Mekah – menurut perjanjian – mereka tidak diperkenankan ulang ke Medinah. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan saat selama di Mekah untuk menyebarluaskan islam kepada masyarakat Mekah. Jumlah pemeluk islam pun bertambah berkali lipat jumlahnya.

Perjanjian tersebut ternyata menguntungkan syiar islam karena punyai saat untuk menyusun kapabilitas dan juga melemahkan kapabilitas musyrikin Quraisy karena perekonomiannya udah lumpuh akibat ulah kawanan Abu Bashir r.a.

Sebelum masa perjanjian berakhir, pihak kaum Quraisy ternyata melanggar perjanjian itu. Namun, apa boleh buat ternyata kapabilitas islam tambah besar. Pengikutnya tambah bertambah banyak, begitu pula sekutunya.

Akhirnya, terjadilah moment Fathu Mekah di mana semua kaum muslimin ulang tempati Mekah tanpa perlawanan artinya berasal dari kaum musyrikin Quraisy, musuh yang dulunya paling gencar memerangi islam. Orang-orang nonmuslim pun berbondong-bondong bersyahadat membuktikan keislaman mereka.

Sumber : https://tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :