ITS Latih Penyandang Tunanetra Operasikan Mesin Cetak Braille

By | November 19, 2019

ITS Latih Penyandang Tunanetra Operasikan Mesin Cetak Braille

ITS Latih Penyandang Tunanetra Operasikan Mesin Cetak Braille

ITS Latih Penyandang Tunanetra Operasikan Mesin Cetak Braille

Berkomitmen untuk membantu anak-anak penyandang tunanetra di Indonesia

dalam bidang literasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Fakultas Teknologi Elektro (FTE) memberikan pelatihan dengan tema Workshop on Using Braille Embosser and Text Editor Software for the Blind and Visual Impairment Student.

Workshop yang bekerja sama dengan Motorolla Solutions Foundation (MSF) tersebut berlangsung selama empat hari di Gedung Departemen Teknik Elektro ITS, mulai Selasa (7/5/2019).

Dekan FTE ITS Dr Tri Arief Sardjono menjelaskan, workshop ini bisa terselenggara berkat bantuan dari MSF yang bermarkas di Amerika Serikat (AS). MSF sendiri merupakan lembaga sosial yang didirikan dari Motorolla Solutions. Ia menceritakan, dalam perjuangannya untuk mendapatkan pendanaan dari MSF ini tidaklah mudah. Dirinya bersama tim harus melalui proses seleksi yang cukup panjang dan rumit.

Namun, ia bersama tim riset mesin cetak braille ITS dengan ketulusan hati

untuk membantu para penyandang tunanetra tidak patah semangat. Setelah melewati tim reviewer dari Motorolla yang berasal dari salah satu Non-Government Organization (NGO) di AS, hasilnya dari Indonesia hanya ada dua yang berhasil mendapatkan pendanaan dari MSF ini yaitu, ITS dan Yayasan Pintar Pemersatu Bangsa. “Bila ITS soal pelatihan mesin cetak braille, Yayasan Pintar Pemersatu Bangsa ini merancang program pelatihan untuk mitigasi bencana banjir di Jakarta,” imbuhnya.

Tak hanya itu, lanjut Tri, setelah melewati seleksi dan review berkas dari NGO dari MSF tersebut, ITS juga berhak mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan pendanaan dari lembaga sosial lainnya di seluruh Amerika Serikat. Padahal untuk bisa mendapatkan hak tersebut harus melalui seleksi yang sangat ketat.

“Ini salah satu langkah ITS untuk bergerak dalam bidang sosial di skala internasional

, karena kita (ITS, red) tahu dalam proyek skala besar seperti pengembangan mesin cetak braille ini tak bisa hanya mengandalkan dari pendanaan lokal saja,” tuturnya mengingatkan.

Dalam sambutan workshop yang dibuka secara resmi pada Senin (6/5) sore itu, Tri mengatakan, workshop ini menghadirkan 15 siswa-siswi tunanetra dari dua Sekolah Luar Biasa (SLB) di Surabaya yaitu SLB Tipe A Yayasan Pendidikan Anak Buta (SLB A YPAB) yang berada di Jalan Tegalsari, Surabaya dan SLB A YPAB yang berada di Jalan Gebang Putih, Surabaya.

Tri sebagai salah satu anggota Tim Riset Braille ITS menjelaskan, program ini merupakan komitmen yang dibangun ITS dalam men-support anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunanetra. ITS sudah mengembangkan printer braille ini sejak tahun 2012 dengan mengembangkan mesin cetak braille dari Norwegia. Hingga kini ITS sudah bisa memproduksi secara utuh prototipe mesin printer braille sendiri dengan kapasitas cetak 400 karakter per detik.

 

Baca Juga :