Cinta Tanah Air

By | January 7, 2020

Cinta Tanah Air

Cinta Tanah Air

Cinta Tanah Air

Situasi dan kondisi suatu negara sangat berpengaruh pada perkembangan sastra. Karya sastra biasanya mengikuti realitas yang terjadi, para penulis biasanya terpengaruh dengan situasi dan kondisi tersebut. Penulis terkadang mengaktualisasikan imajinasi dan ide kreatifnya sejalan dengan situasi dan kondisi negara pada saat itu. Di era tahun 65-an perkembangan sastra tersendat oleh karena kondisi politik negara yang tidak stabil. Kondisi politik negara pada era itu sedang bergolak, dibarengi oleh aksi pemberontakan besar yang dilakukan oleh G 30 S/PKI. Dampak yang ditimbulkannya pun bermacam-macam, sehingga merubah sistem dan kebijakan pemerintahan terhadap peranan sastra. Peran serta sastrawanpun tidak sebebas dengan apa yang diinginkan sastrawan terhadap karya yang diciptakannya.

Seperti yang kita ketahui, umumnya sastrawan identik dengan kebebasan. Namun kebebasan tidak mutlak milik para sastrawan. Keberadaan negara sebagai unsur tertinggi dalam pemerintahan memberikan batasan yang signifikan kepada warga negara termasuk sastrawan untuk merealisasikan kebebasannya dalam karya ciptanya. Hal ini terkadang juga bertentangan dengan interprestasi mereka dalam mengartikan bentuk kebebasan tersebut. Tidak bisa dipungkuri bahwasanya sebagian besar sastrawan sangat idealis dalam menceritakan realitas yang terjadi di lingkungannya sebagai suatu bentuk kepedulian terhadap sosial masyarakat dan kecintaannya terhadap sebuah negeri.

Kekuasaan adalah mutlak dan bergantung siapa yang memegang tampuk kekuasaan itu. Upaya memperkukuh kekuasaan untuk memerintah dapat dijalankan dengan melawan siapa saja yang dianggap membahayakan atau mengurangi kekuasaan pemerintahan melalui alat-alat kekuasaan negara, misalnya antara lain dengan melarang dan menyita karya-karya yang dianggap sebagai lawan politiknya.

Pada masa orde baru berkuasa, ada larangan terhadap sejumlah karya sastra karena penulis-penulisnya dituduh terlibat dalam G 30 S/PKI, sehingga karya tersebut tidak terjamah oleh pembaca sastra Indonesia, termasuk sastra eksil. Sastra eksil adalah sastra yang ditulis oleh para sastrawan yang hidup dalam pembuangan politik di luar negeri kelahiran mereka sendiri. Perbedaan ideologi politik dengan pemerintahan yang sedang berkuasa merupakan alasan utama terjadinya pembuangan politik tersebut.

Namun, belakangan ini perbincangan mengenai sastra eksil kian mengemuka yang diiringi dengan penerbitan sejumlah karya-karya mereka. Sebut saja Kisah Intel dan Sebuah WarungPerang dan Kembang karya Asahan Alham, Di Bawah Langit tak Berbintang dan Menuju Kamar Durhakakarya Utuy Tatang Sontani, antologi Di Negeri Orang: Puisi Penyair Eksil Indonesia, karya Asahan Alham, Sobron Aidit, dan kawan-kawan. karya Sobron Aidit, adik kandung DN Aidit,

Sumber : https://synthesisters.com/