Ditonton Anak dan Remaja, KPAI Minta Stop Iklan Rokok

By | February 7, 2020

Ditonton Anak dan Remaja, KPAI Minta Stop Iklan Rokok

Ditonton Anak dan Remaja, KPAI Minta Stop Iklan Rokok

Ditonton Anak dan Remaja, KPAI Minta Stop Iklan Rokok

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mencantumkan pelarangan materi iklan rokok dalam draf rancangan Undang-Undang Penyiaran yang saat ini sedang dibahas.

Menurutnya, tayangan iklan rokok di media penyiaran mempengauhi peningkatan jumlah perokok

pemula yang didominasi oleh remaja usia sekolah. Selain lingkungan sosial dan pertemanan, iklan rokok diyakini menjadi pintu masuk perokok pemula.

Secara substantif iklan rokok telah dilarang oleh Undang-Undang Kesehatan, karena rokok merupakan bagian dari zat adiktif. Selain itu Undang-Undang Perlindungan Anak pun juga telah melarang iklan rokok.

“Oleh karena itu, kami berpandangan dalam Pasal 143 RUU Penyiaran harusnya secara tegas, termasuk juga Pasal 144 harusnya secara tegas menyampaikan bahwa iklan rokok dilarang dalam UU itu,” kata Susanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (16/10).

Susanto menegaskan, bukan tanpa alasan pihaknya meminta pelarangan iklan rokok.

Mengutip data Kementerian Kesehatan, prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat tiga kali lipat dari 7,1 persen pada 1995 menjadi 20,5 persen pada 2014. Lebih mengkhawatirkan lagi, perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100 persen dari 8,9 persen pada 1995 menjadi 18 persen pada 2013.

Penelitian di Rumah Sakit Persahabatan tahun 2013 memperlihatkan, tingkat kecanduan atau adiksi pada anak SMA yang merokok cukup tinggi, yaitu 16,8%. Artinya 1 dari 5 remaja yang merokok telah mengalami kecanduan

Oleh karenanya, KPAI meminta pasal 144 ayat 2 dalam RUU penyiaran

yang membolehkan tayangan iklan rokok di media untuk dihapuskan. Untuk menggantinya KPAI meminta ditambahkan pasal 143 huruf (i) dalam RUU tersebut yang berbunyi, “Materi siaran iklan dilarang mempromosikan minuman keras, rokok dan zat adiktif lainnya, termasuk di dalam iklan spot.

 

Sumber :

https://memphisthemusical.com/