Ancaman bahaya limpasan (overtopping) oleh banjir

By | May 5, 2020

Ancaman bahaya limpasan (overtopping) oleh banjir

Ancaman bahaya limpasan (overtopping) oleh banjir

Ancaman bahaya limpasan (overtopping) oleh banjir

Buka pintu pembuang atau pintu banjir (flood gate) sampai maksimum
Tempatkan karung pasir sepanjang mercu bendungan untuk menambah free board
Tempatkan riprap (tumpukan batu) atau karung pasir pada bagian bendungan yang rusak
Lakukan tindakan perlindungan erosi pada bagian hilir lereng bendungan dengan menempatkan riprap atau material sejenisnya
Belokkan air banjir ke sekitar bendungan atau ke pelimpah darurat (emergency spillway)
b. Pengikisan bendungan karena aliran rembesan (seepage) melalui tubuh bendungan atau pondasi
Tutup lubang rembesan dengan material yang sesuai (karung pasir, riprap, tanah, bentonite, atau lembaran plastik jika bocoran pada bagian hulu dari bendungan)
Turunkan muka air waduk sampai kecepatan aliran menurun dan tak membahayakan erosi, atau menghentikan rembesan
Letakkan pasir atau krikil sebagai filter pada rembesan untuk mengurangi larutnya butiran-butiran tanah tubuh bendungan
Teruskan penurunan muka air waduk sampai rembesan berhenti atau terkendali.
Pengisian kembali waduk sampai muka air normal hanya dilakukan setelah perbaikan masalah rembesan selesai
c. Longsoran atau keruntuhan lereng pada hilir atau hulu lereng bendungan
Turunkan muka air waduk sampai ketinggian atau level yang dianggap aman  (Hubungi insinyur Dam Safety Division untuk menentukan muka air yang aman, jika pintu/lubang spillway terbendung/tertutup/macet lakukan pemompaan atau membuat sifon)
Kembalikan turunnya  free board dengan menempatkan karung pasir di atas amblesan
Stabilkan longsoran dengan memberati (counter weight) bagian kaki bendungan dengan tanah, batu atau krikil
d. Keruntuhan/kegagalan bangunan pelimpah (spillway) dan pintu pengeluaran (outlet)
Turunkan muka air waduk sampai elevasi aman.
Lalukan tindakan pencegahan sementara untuk melindungi kerusakan bangunan
Jika perlu, cari atau sewa penyelam berpengalaman untuk mengetahui permasalahannya dan kemungkinan perbaikannya.
Maka pada hakekatnya upaya pemberdayaan masyarakat disini bertujuan ganda, diharapkan bukan saja menghasilkan  kemandirian masyarakat dalam sosial-ekonomi, tetapi juga kemandirian dalam ikut serta mengamankan dan melestarikan bendungan atau waduk beserta lingkungannya. Pemberdayaan ini sangat penting mengingat banyaknya waduk-waduk sekondisi Situ Gintung di Jawa Tengah.
Fauzi Fachruddin
Daftar Pustaka
Supriyanto dan Subejo (2004): Harmonisasi Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dengan Pembangunan Berkelanjutan, Buletin Ekstensia, Pusat Penyuluhan Pertanian, Deptan RI, Vol 19/Th XI/2004.
Bartle, Phil (2003): Keywords C of Community  Development, Empowerment, Participation, dalam http://www.scn.org/ip/cds/cmp/key-chtm.
Subejo dan Supriyanto (2004): Metodologi Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat, Kuliah Intensif Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (SORem), Dewan Mahasiswa Fak Pertanian, UGM, 16 Mei 2004.
Deliveri (2004): Pemberdayaan Masyarakat, dalam http://www.deliveri.org/guidelines/policy/pg_3_summary.htm
Mayo, Virginia (1994): ”Community Work” in Christopher Hanvey and Terry Philpot (eds). Practicing Social Work, Routledge, London
UNDP (1998): Capacity Assessment and Development in A System and Strategic Management Context, Technical Advisory Paper No.3
Tri Pranaji (2005): Pemberdayaan Kelembagaan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Air, Mencari Strategi dan Kebijakan yang Sesuai untuk Pemantapan Ketahanan Pangan 2006-2009, Makalah pada Workshop Pengelolaan Lahan dan Air untuk Ketahanan Pangan, Auditorium Gedung F, Dep Pertanian, 3 Oktober 2005.
Dit Bina Teknik, Ditjen PSDA (2003): Pedoman Operasi, Pemeliharaan dan Pengamatan Bendungan, Bagian 3, Sistem Instrumentasi dan Pemantauan, Dep Kimpraswil,Jakarta.

Canadian Dam Association (2007): Dam Safety Guidelines, dalam www.cda.html

Sumber : https://synthesisters.com/battle-sea-3d-apk/