Ilmuwan ciptakan aplikasi AI bantu petani pisang selamatkan panen

By | May 17, 2020

Ilmuwan ciptakan aplikasi AI bantu petani pisang selamatkan panen

Ilmuwan ciptakan aplikasi AI bantu petani pisang selamatkan panen

Ilmuwan telah menciptakan aplikasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mudah digunakan untuk membantu petani pisang mendeteksi penyakit dan hama pada tanaman.

Kehadiran aplikasi ponsel tersebut merupakan kabar baik bagi petani kecil

karena mereka dapat menjalankan pertaniannya lebih efisien, menghubungkan dengan pasar, pekerja penyuluhan, gambar satelit, dan mendapat informasi cuaca melalui ponsel dengan aplikasi AI tersebut.

“Petani di dunia berjuang untuk mempertahankan pertanian mereka dari hama dan penyakit,” kata Michael Selvaraj, yang mengembangkan alat tersebut bersama koleganya dari Bioversity International di Afrika.

Pisang adalah buah paling popular di dunia, dan dengan populasi global mencapai 10 miliar pada 2050, tekanan untuk menghasilkan makanan yang cukup pun meningkat.

Baca juga: Pakar: Perangkat IoT paling rawan terhadap malware

Pisang merupakan sumber nutrisi, dan makanan pokok bagi banyak keluarga, sekaligus sumber pendapatan. Namun, penyakit seperti layu Fusarium, Xanthomanas, dan bercak daun hitam mengancam merusak buah. Dan ketika wabah penyakit itu menghantam, petani kecil akan sangat merugi.

Tumaini, nama aplikasi itu, dalam bahasa Swahili berarti “harapan”.

Aplikasi tersebut akan menghubungkan petani dengan petugas penyuluhan untuk menghentikan wabah dengan cepat. Juga dapat mengunggah data ke sistem global untuk pemantauan dan kendali skala besar.

Teknologi itu menjadi pertahanan pertama melawan penyakit tanaman dan hama yang berpotensi menghancurkan panen pisang. Lewat ponselnya, petani pisang bisa memindai tanda lima penyakit utama dan satu hama.

Dalam pengujian di Kolombia, Republik Demokratik Kongo

, India, Benin, China, dan Uganda, Tumaini itu memberikan tingkat deteksi 90 persen, demikian seperti disadur dari Science Daily, Senin (12/8), mengutip laporan jurnal Plant Methods.

 

Baca Juga :