Paranoid Kronis Informasi Sesat

By | May 4, 2020

Paranoid Kronis Informasi Sesat

Paranoid Kronis Informasi Sesat

Paranoid Kronis Informasi Sesat

Tulisan ini merupakan ungkapan rasa syukur saya yang berlipat-lipat, sehingga saya merasa harus membuang jauh-jauh amarah, mangkel, maupun rasa ketidakberdayaan saya menghadapi arus informasi.

Ya. Arus informasi. Tepatnya arus informasi yang tidak tepat.

Arus inilah yang membuat saya kelimpungan, deg-degan, kuatir luar biasa.

Normal rasanya bagi saya dan tentu saja istri saya, bahwa nantinya mengharapkan bisa melewati proses melahirkan dengan normal. Operasi caesar bukan merupakan kemungkinan, ataupun pilihan. Karena dalam proses melahirkan hanya ada dua kemungkinan, melahirkan secara normal atau tidak normal. Sebagai manusia normal tentu saja kami berdua memilih yang normal-normal saja.

Akhirnya tiba hari itu, ketika seorang kawan terpaksa melahirkan secara caesar. Tanpa pemeriksaan yang menurut saya memadai, vonis itu langsung jatuh : caesar. Ini karena kawan saya tersebut berkacamata, minus 5. Dikhawatirkan si ibu akan mengalami kebutaan permanen ketika mengejan terlalu kuat saat melahirkan. Jadi, caesar, atau buta. Wow. Mengerikan.

Istri saya berkacamata, minus 6. Mak dug rasanya hati ini.

Ketika saya pulang, saya masih mendapati istri saya berkacamata, masih minus 6. Searching di internet, rasanya belum puas, masih ngambang. Konsultasi ke dokter kandungan, cuman dijawab dengan senyuman penuh arti, yang sayangnya saya ndak tahu apa artinya.

Tiga bulan dalam kondisi gamang, walaupun tetap yakin bahwa tetap harus bisa melahirkan normal. Saat pamitan ke dokter, karena akan melahirkan di desa, saya bertanya lagi. Kali ini dijawab dengan lemparan petir gundala : ”Anak saya tiga, semuanya lahir normal. Saya minus 7”. (Padahal selama bertemu dengan kami tak sekalipun beliau memakai kacamata.) Untuk menenangkan hati kami, si dokter menyarankan untuk konsultasi ke dokter spesialis mata.

Jawaban si dokter spesialis sungguh mengharukan, karena sebelum menjawab dengan kata-kata, lebih dulu dijawab dengan senyuman penuh arti, yang kali ini saya tahu artinya adalah ejekan akan ketakutan kami.

Bahwa yang dikhawatirkan adalah kondisi lepasnya retina saat mengejan terlalu kuat. Ini disebabkan retina yang bersangkutan terlalu tipis. Dan kondisi retina tipis itu tidak ada kaitannya dengan berkacamata atau tidak. Orang bermata normal pun ada yang retinanya tipis. Selanjutnya si dokter spesialis melakukan pemeriksaan terhadap mata istri saya, dan dinyatakan aman melahirkan secara normal.

Alhamdulillah. Leganya…

Terus kemudian seorang teman, yang prihatin dengan kondisi saya yang penuh ketidakpastian, kapankah gerangan si kecil ini lahir, menyarankan, agar mudah, semua bisa diprediksi, dan agar hati tenang, caesar saja. Toh sama-sama lahir..

Dalam kurung : Dhengkulmu mlicet…

Haqqul yaqin.

Inilah yang terjadi pada sebagian besar kita. Menelan informasi utuh. Padahal informasi itu seperti kedondong atau salak. Kita harus selektif memilahnya, jangan sampai salah telan.

Caesar, dalam pandangan awam saya, jadi seperti pelarian atas ketidakberdayaan si ibu hamil dan dokter kandungan terhadap apa yang sedang terjadi. Pake kacamata, caesar. Di USG bayi terlalu besar, caesar. Padahal, menurut keyakinan saya, caesar seharusnya digunakan pada saat benar-benar darurat. Seperti palu yang tergantung dekat jendela kaca busway.

Alhamdulillah…

Sang jabang bayi, Sekar, telah lahir. Normal. 4,2 kg. Dari ibu yang berkacamata. Walaupun mbeleset seminggu dari tanggal perkiraan.

Lalu seorang teman, yang juga barusan punya bayi, setelah melihat wajah Sekar yang berbedak, serta merta dia berseru :“Bayi jangan dibedaki. Hidungnya belum punya saringan. Bisa-bisa serbuk bedaknya terhirup dan kemudian masuk ke paru-paru. Paru-parunya bisa terganggu. Aku dapat info ini dari milis.“

Ok. Cukup. Kali ini saya tidak membiarkan hati saya gamang lagi. Saya tanya dia, apakah waktu bayi dulu dia bedaki. Iya, jawabnya. Apakah sekarang paru-parunya terganggu. Tidak, jawabnya. Coba tunjuk, diantara kita yang seumuran, mana yang dulu dibedaki dan sekarang kena gangguan paru-paru karena bedak. Tak ada jawaban. Apakah sampean lebih percaya pada milis daripada pada Gusti Allah. Masih diam.

Saya teruskan.

Gusti Allah pasti sudah menyempurnakan anatomi si bayi. Mungkin saja sampean benar, ada hidung bayi yang belum punya saringan. Tapi mungkin itu adalah bayi hasil caesar, belum waktunya lahir, karena saringan hidungnya belum tumbuh, sudah dipaksa lahir karena kekuatiran yang tidak beralasan. Kita sebagai orang tua cuman membantu proses adaptasi si bayi. Mana yang lebih berbahaya, sampean ajak bayi sampean jalan-jalan atau sampean bedaki bayi sampean. Kalau memang hidung bayi belum ada saringannya, gak perlu bedak, bahkan bau tubuh sampean pun sudah bisa bikin bayi sampean mendem.

Masih saya teruskan.

Biarkan hidung bayi sampean beradaptasi pada debu. Biarkan tubuhnya belajar memproduksi antibodi. Jangan cuci botol susu bayi sampean terlalu steril, karena akan membuat tubuh bayi sampean selalu merasa aman, sehingga lupa memproduksi anibodi. Jangan manjakan bayi sampean, agar dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat karena tertempa sejak bayi.  Biarkan bayi sampean berkeringat kepanasan karena itu akan membuatnya adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/strain-tactics-apk/