Masalah –Masalah Sosial dan Ilmu Sosial Dasar

By | June 26, 2020

Masalah –Masalah Sosial dan Ilmu Sosial Dasar

Masalah –Masalah Sosial dan Ilmu Sosial Dasar

Masalah-masalah social yang dihadapi oleh setiap masyarakat manusia tidaklah sama antara yang satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya, dan keadaan lingkungan alamnya di mana masyarakat itu hidup. Masalah-masalah tersebut dapat terwujud sebagai: masalah social, masalah moral, masalah politik, masalah ekonomi, masalah agama ataupun masalah-masalah lainnya.

Yang membedakan masalah-masalah social dari masalah-masalah lainnya adalah bahwa masalah-masalah social selalu ada  kaitannya yang dekat dengan nilai-nilai moral dan pranata-pranata social, serta selalu ada kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia dan dengan konteks-konteks normative dimana hubungan-hubungan manusia itu terwujud (Nisbet, 1961).

Pengertian masalah social ada dua pengertian:

1)      Menurut umum atau warga masyarakat bahwa segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umu adalah masalah social.

2)      Menurut para ahli masalah social adalah suatu kondisi atau perkembangan yang terwujud dalam masyarakat yang berdasarkan atas studi mereka mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan warga masyarakat secara keseluruhan. Contoh: masalah pedagang kaki lima di kota-kota besardi Indonesia.

Menurut difinisi umum, pedagang kaki lima bukan masalah social, karena di satu pihak para pedagang kaki lima tersebut dapat memperoleh nafkah untuk dapat melangsungkan kehidupannya, dan di lain pihak para pembeli yaitu para warga masyarakat dengan mudah memperoleh pelayanan dan dengan harga yang pantas untuk taraf ekonomi mereka dari para pedagang kaki lima. Sebaliknya para ahli perencanaan kota, ahli sosiologi dan ahli antropologi akan menyatakan bahwa pedagang kaki lima di kota-kota menjadi sunber utama dari suatu kondisi di mana kejahatan dengan mudah dapat terjadi.

Dengan demikian, suatu masalah yang digolongkan sebagai masalah social oleh para ahli belum tentu dianggap sebagai masalah social oleh umum. Sebaliknya ada juga masalah-masalah yang dianggap sebagai masalah social oleh umum tetapi belum tentu dianggap sebagai masalah social oleh para ahli. Oleh karena itu dengan mengikuti batasan yang lebih tegas dikemukakan oleh lesile (1974), masalah-masalah social dapat di definisikan sebagai: sesuatu kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan yang karenanya dirasakan perlunya untuk diatasi atau diperbaiki.

Berdasarkan pengertian di atas, maka masalah-masalah social ini pengertiannya terutama ditekankan pada adanya kondisi atau sesuatu keadaan tertentu dalam kehidupan social warga masyarakat yang bersangkutan. Kondisi  atau keadaan social tertentu, sebenarnya merupakan proses hasil dari proses kehidupan manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmaniyahnya (manusia harus makan, minum, buang air, bernafas, mengadakan hubungan kelamin, dan sebagainya), kebutuhan-kebutuhan social (berhubungan dengan orang lain, membutuhkan bantuan orang lain untuk memecahkan berbagai masalah, dan sebagainya), dan kebutuhan-kebutuhan kejiwaan ( untuk dapat merasakan aman dan tenteram, membutuhkan cinta kasih dan sayang, dan sebagainya).

Dalam usaha-usaha untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, manusia menggunakan kebudayaan sebagai model-model petunjuk di dalam menggunakan lingkungan alamnya dan sosialnya di masyarakat. Perwujudan ini adalah suatu kondisi atau keadaan di mana manusia itu hidup di dalam masyarakat. Kondisi-kondisi itu bukan sesuatu yang tetap tetapi selalu dalam proses perubahan.

PENUTUP

Dari uraian singkat di atas, setidaknya dapat disimpulkan beberapa hal tentang latar belakang dan ruang lingkup Ilmu Sosial Dasar.

Mengenai latar belakang Ilmu Sosial Dasar, bermula dari banyaknya kritik-kritik yang ditunjukan pada system pendidikan di Perguruan Tinggi oleh sejumlah cendikiawan terutama sarjana pendidikan, social dan kebudayaan. Mereka menganggap system pendidikan yang tengah berlangsung saat ini, berbau colonial dan masih merupakan warisan system pendidikan pemerintah Belanda, yaitu kelanjutan dari “politik balas budi” (etische politiek) yang dianjurkan oleh Conrad Theodore Van Deventer, bertujuan menghasilkan tenaga-tenaga trampil untuk menjadi “tukang-tukang” yang mengisi  birokrasi mereka di bidang administrasi, pedagang, teknik, dan keahlian lain dalam tujuan eksploitasi kekayaan Negara.

Adapun ruang lingkup pembahasan Ilmu Sosial Dasar:

1)         Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan.