Mempercepat pelunasan utang sebelum meninggal

By | July 14, 2020

Mempercepat pelunasan utang sebelum meninggal

Utang berbeda dengan hibah, shadaqah, dan hadiah, hibah, shadaqah, dan hadiah merupakan pemberian yang tidak perlu dikembalikan. Sedangkan utang adalah pemberian kepemilikan atas barang dengan ketentuan bahwa barang tersebut harus dikembalikan, baik dengan barangnya maupun harganya.

          Utang itu sebaiknya segera dilunasi agar tidak menjadi beban pada saat orang yang berhutang meninggal dunia. Bahkan Rasulullah tidak mau menyalatkan jenazah yang memiliki hutang, kecuali ada yang menanggungnya. Dengan demikian, apabila seseorang mempunyai utang dan ia sudah mampu untuk membayarnya, maka hendaknya utang tersebut segera dilunasi, dan jangan ditunda-tunda. Apabila ia tidak mampu, tetapi ia menunda-nunda pembayaran utangnya, maka ia termasuk orang yang zalim. Hal ini sesuai dengan hadist:

 أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الّلهِ صَلَّى الّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مُلِيْءٍ فَلْيَتَّبِعْعَنْ

“Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: Penundaan (permbayaran utang) oleh orang yang kaya (mampu) merupakan penganiayaan, dan apabila salah seorang di antara kamu (utangnya) dialihkan kepada orang kaya (mampu), maka hendaklah ia menerimanya. (HR. Abu Dawud).

Sedangakan apabila kondisi orang yang berhutang sedang berada dalam kesulitan dan ketidakmampuan, maka kepada orang yang memberikan utang dianjurkan untuk memberikan kelonggaran dengan menunggu sampai ia mampu untuk membayar utangnya.

 

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/unggahan-kementan-ini-panen-kritikan-warganet-ada-apa/