Tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah di Indonesia

By | August 5, 2020

Tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah di IndonesiaTharekat Qodiriyah Naqsabandiyah di Indonesia

            Tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah di Indonesia  bukan hanya penggabungan dari dua tharekat yang berbeda yang diamalkan bersama-sama. Tharekat ini lebih merupakan sebuah tharekat yang baru dan berdiri sendiri, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur pilihan dari Qodiriyah dan juga Naqsabandiyah kemudian telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru.

            Tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah  mungkin sekali didirikan oleh tokoh Indonesia, yaitu Ahmad Khatib Ibn ‘Abd Al-Ghaffar Sambas, yang bermukim dan mengajar di Mekkah pada pertengahan abad kesembilan belas.[5]

            Ahmad Khatib sendiri tidak menulis sebuah buku atau kitab sama sekali, tetapi dua dari murid-muridnya dengan setia merekam ajaran-ajarannya dalam risalah pendek berbahasa Melayu, yang dengan gamblang menjelaskan dari tharekat ini. Salah satunya, Fath Al-‘Arifin dianggap oleh semua khalifah dimasa itu sebagai karya yaang paling dapat dipertanggungjawabkan mengenai tharekat. Karya tersebut menguraikan tentang baiat, zikir dan teknik-teknik serta peribadatan lain, baik dari tharekat Qodiriyah maupun dari tharekat Naqsabandiyah; risalah itu diakhiri dengan silsilah Ahmad Khatib.

Fath Al-‘Arifin di Indonesia dalam pengalamannya lebih didominasi unsur-unsur Qodiriyah, dominasi tersebut dapat dilihat dalam silsilah yang sama sekali tidak memuat nama-nama tokoh dari Naqsabandiyah yang sudah dikenal. Turun sampai kepada Abd’ Al-Qadir  dan putranya, ‘Abd Al-‘Aziz, merupakan silsilah Qodiriyah yang biasa; nama-nama berikutnya menurut dugaan Qodiriyah juga yang mana nama-nama yang diberikan dalam bentuk yang sesingkat mungkin, sehingga tidak dapat diketahui petunjuk ke wilayah mana secara geografis cabang tharekat ini termasuk. Silsilah tersebut dimulai dengan Allah dengan melalui malaikat Jibril sampai kepada Nabi Muhammad dan seterusnya.[6]

Sedikit yang dapat diketahui mengenai latar belakang dan kehidupan Ahmad Khatib, terlepas dari fakta bahwa ia berasal dari Sambas di Kalimantan barat dan tinggal lama di Makkah, kemudian beliau wafat di sana pada tahun 1878. Beliau adalah murid kesayangan gurunya Syams Al-Din, dan telah dipilih menjadi penggantinya, dengan demikian beliau mempunyai banyak murid diantaranya orang-orang Indonesia yang berkunjung ke Makkah dari segenap penjuru Nusantara: dari Malaya, Sumatera, Bali dan lombok. Ia pun banyak mengangkat khalifah, tetapi setelah ia wafat, hanya seorang dari mereka yang ini yang diakui sebagai pemimpin utama dari tharekat tersebut. Dia adalah Syaikh Abd’ Al-Karim dari banten, yang hampir seumur hidupnya telah bermukim di Makkah, dua khalifah lain yang berpengaruh adalah Syaikh Tolhah di Cirebon dan Kiai Ahmad Hasbullah ibn Muhammad (orang Madura yang juga menetap di Makkah).

Semua cabang-cabang Qodiriyah Naqsabandiyah yang tergolong penting di masa kini mempunyai hubungan keguruan dengan seorang atau beberapa orang dari ketiga khalifah tersebut diatas. Disamping mereka, ada lagi beberapa khalifah lain, seperti: Muhammad Isma’il ibn ‘Abd Al-Rahim dari bali, Syaikh Yasin dari Kedah (Malaya), yang belakangan menetap di Mempawah Kalimantan Barat, dan menyebarkan tharekat ini di sana. Kemudian juga ada orang lain yang menyebarkan tharekat ini di Lampung, beliau adalah Syaikh haji Ahmad Lampung dan juga Muhammad Ma’ruf ibn ‘Abdullah Khatib dari Palembang.[7] Perkembangan tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah dalam perjalanannya juga menciptakan tharekat yang mandiri di berbagai penjuru Nusantara, diantaranya;  Banten, Bogor , Cirebon, Tasikmalaya, Jombang, Lombok dan masih banyak lagi, dimana di kota-kota tersebut didirikan pondok pesantren seperti, Darul Ulum di Jobang dan Suryalaya di Tasikmlaya.

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Pengertian tharekat Menurut bahasa Tharekat adalah yang berarti berjalan, keadaan,  aliran, atau garis pada sesuatu.Manurut istilah Tharekat adalah jalan yang mengacu pada sistem latihan, meditasi maupun amalan-amalan yang dihubungkan guru sufi. Tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah adalah tharekat yang baru dan berdiri sendiri, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur pilihan dari Qodiriyah dan juga Naqsabandiyah kemudian telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah  mungkin sekali didirikan oleh tokoh Indonesia, yaitu Ahmad Khatib Ibn ‘Abd Al-Ghaffar Sambas, yang bermukim dan mengajar di Mekkah pada pertengahan abad kesembilan belas

Tujuan tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah adalah taqarrub Ilallah SWT, menuju jalan mardhatillah, kemakrifatan, kecintaan terhadap Allah serta mempunyai dasar-dasar Tinggi cita-cita Memelihara kehormatan, Memperbaiki khidmat, Melaksanakan cita-cita, dan membesarkan nikmat

Perkembangan tharekat Qodiriyah Naqsabandiyah di Indonesia dalam perjalanannya juga menciptakan tharekat yang mandiri di berbagai penjuru Nusantara, diantaranya;  Banten, Bogor , Cirebon, Tasikmalaya, Jombang, Lombok dan masih banyak lagi, dimana di kota-kota tersebut didirikan pondok pesantren seperti, Darul Ulum di Jobang dan Suryalaya di Tasikmlaya.

Sumber :

https://rakyatlampung.co.id/