Ketika Rumah Bukan Lagi Surga: Menguak Kejahatan dalam Keluarga
Keluarga seringkali dianggap sebagai benteng terakhir, tempat berlindung dari kerasnya dunia luar. Namun, ironisnya, bagi sebagian orang, benteng itu justru bisa menjadi arena terjadinya kejahatan yang paling menyakitkan dan tersembunyi: kejahatan dalam keluarga. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau bentuk kejahatan lain yang dilakukan oleh anggota keluarga, adalah realitas pahit yang harus diakui.
Bentuk kejahatan ini beragam, tak terbatas pada kekerasan fisik semata. Ia meliputi kekerasan emosional dan psikologis yang merusak mental, kekerasan seksual yang menghancurkan jiwa, penelantaran yang melukai kebutuhan dasar, hingga eksploitasi ekonomi. Pelakunya bisa siapa saja: orang tua, pasangan, anak, atau anggota keluarga dekat lainnya, yang seharusnya menjadi sumber kasih sayang dan perlindungan.
Pemicunya kompleks: mulai dari ketidakseimbangan kekuasaan, tekanan ekonomi, penyalahgunaan zat, masalah kesehatan mental, hingga pola asuh yang keliru atau trauma masa lalu yang belum terselesaikan. Seringkali, kejahatan ini tumbuh subur dalam lingkungan yang penuh rahasia, minim komunikasi, dan ketakutan, membuat korban sulit untuk bersuara.
Dampaknya? Tak terhitung. Korban menderita trauma mendalam, masalah psikologis berkepanjangan, hilangnya rasa percaya, dan kesulitan membangun hubungan di masa depan. Lingkungan keluarga menjadi toksik, siklus kekerasan berpotensi berulang, dan fondasi masyarakat pun ikut tergerus.
Untuk memutus rantai kejahatan ini, dibutuhkan keberanian. Keberanian korban untuk bicara dan mencari pertolongan, keberanian masyarakat untuk tidak menutup mata, serta keberanian lembaga terkait untuk bertindak tegas. Dukungan psikologis, pendampingan hukum, dan edukasi tentang batasan sehat dalam keluarga adalah kunci.
Mewujudkan keluarga sebagai tempat yang benar-benar aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, adalah tanggung jawab bersama. Hanya dengan mengakui keberadaan sisi gelap ini dan berani menghadapinya, kita bisa membangun rumah yang sesungguhnya menjadi surga bagi setiap anggotanya.












